SAKITNYA MELAHIRKAN DAMAI DI TANAH PAPUA

Frans Guna Langkeru

Pendahuluan


Kegiatan yang saat ini diselenggarakan merupakan bagian dari upaya besar
untuk mendesign perdamaian di Papua yang sudah berulang kali dikerjakan. Ketika kita
berbicara tentang perdamaian, hal itu mengisyaratkan adanya situasi yang tidak damai
atau konflik; dan Papua sepertinya ‘akrab’ dengan situasi seperti itu. Akar konflik sudah
dengan cukup jelas diperlihatkan oleh banyak pekerja kemanusiaan. Di antara mereka
itu ada Muridan dkk, yang memamparkan bahwa setidaknya terdapat empat faktor
pokok yang menjadi akar konflik di Papua: (1) sejarah integrasi dan politik identitas,
(2) kekerasan politik dan pelanggan HAM, (3) kegagalan pembangunan dan (4)
inkonsistensi penerapan UU Otsu seiring dengan marginalisasi orang Papua.1 Banyak
upaya untuk mencari jalan keluar berdasarkan pemetaan persoalan yang sudah dibuat
itu, tetapi konflik tetap saja timbul di Papua.


Konflik yang terus-menerus terjadi tentu bukan merupakan hal yang berdiri
sendiri. Sejak Papua bergabung ke Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 sampai dengan
hari ini, Papua tidak sepi dari konflik. Segala upaya dengan pelbagai pendekatan sudah
dilakukan agar Papua benar-benar menjadi kawasan damai, namun pada kenyataan
konflik terus terjadi. Secara umum boleh kita sebutkan bahwa pada Orde Baru
pendekatan keamanan digunakan untuk mengatasi konflik Papua. Militer dan senjata
mendominasi pendekatan itu. Pada Orde Reformasi, pemerintah berupaya
menggunakan pendekatan kesejahteraan. Sejak itu lahirlah banyak regulasi untuk
menopang upaya penyelesaian konflik di Papua secara damai: mulai dengan UU Otsus
(2001), kemudian UU No. 26 Th. 2002 terkait pemekaran Kabupaten, Inpres No. 1 Th.
2003 tentang pemekaran provinsi Papua, Inpres no. 5 th. 2007 tentang Percepatan
Pembangunan provinsi Papua dan Papua Barat, Perpres no. 65 tentang UP4B (Unit
Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat), Perpres No. 84, Th. 2012,
tentang Pengadaan Barang/Jasa untuk percepatan pembangunan dan seterusnya.
Pendekatan yang semakin ‘manusiawi’ itu pun ternyata tidak sanggup memadamkan
konflik di Papua. Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang dibutuhkan?

BACA SELANJUTNYA.

Review-NS_SAKITNYA-MELAHIRKAN-DAMAI-DI-TANAH-PAPUA_Frans-Guna-Langkeru.pdf

id_IDIndonesian