Peran TNI Terus Meluas, Imparsial Sebut Demokrasi dan Supremasi Sipil dalam Ancaman

Oktober 4, 2026
Oleh admin

Suara.com – Imparsial mengingatkan pemerintah untuk tidak terus-terusan memperluas peran TNI ke ranah sipil.


Perluasan peran tersebut justru bukan memperkuat, melainkan akan melemahkan profesionalisme TNI dan mengancam demokrasi.

Catatan itu menjadi salah satu dari dari sejumlah persoalan utama reformasi TNI yang harus menjadi perhatian semua pihak.

Direktur Imparsial Ardi Manto Adiputra mengatakan, peringatan HUT ke-81 TNI kali ini sudah semestinya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi serius terhadap perjalanan reformasi TNI.

Khususnya, setelah Reformasi 1998, cita-cita publik yang menghendaki TNI menjadi lembaga yang profesional di bidang pertahanan, memiliki alutsista yang modern dan prajurit yang sejahtera adalah sebuah keniscayaan.

Namun, cita-cita tersebut ternyata masih jauh dari kata terwujud.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kecenderungan kuat terjadinya arus balik (involusi) yang membuat militer berubah kembali seperti masa Orde Baru. 

Kondisi tersebut bisa dilihat dari indikasi semakin meluasnya peran militer di ruang sipil, penguatan struktur komando teritorial, berulangnya praktik kekerasan, serta lemahnya pengawasan dan akuntabilitas kebijakan yang terkait dengan militer.

Imparsial menilai terjadinya arus balik di TNI hari ini merupakan problem sistemik dan struktural yang berkaitan dengan arah kebijakan pertahanan negara yang dirumuskan oleh pemimpin politik tertinggi di republik ini, dalam hal ini adalah Presiden.

“Pemimpin politik kita hari ini telah gagal mewujudkan TNI sebagai alat pertahanan negara yang profesional, modern dan sejahtera. Akibatnya terjadi perluasan peran TNI untuk masuk terlalu jauh ke dalam urusan pemerintahan sipil yang kemudian berimplikasi terhadap demokrasi, hak asasi manusia, penegakan hukum, dan supremasi sipil,” kata Ardi Manto, dalam siaran pers Imparsial, dikutip Minggu (4/10/2026).

Baca Selenjutnya…

Follow Us