• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

KASUS RANI ANDRIANI

Rani divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang pada 2000 karena kedapatan membawa 3.500 gram heroin. Rani ditangkap bersama dua saudaranya Meirika Franola (Ola) dan Deni Setia Maharwan saat hendak terbang menyelundupkan narkoba ke London. Ketiganya divonis hukuman mati.

Keterlibatan Rani dalam bisnis narkoba berawal dari jeratan hutang. Ia sempat meminjam uang kepada Ola untuk membayar hutang, namun Ola mengaku ia tidak punya sejumlah uang yang diminta Rani. Kemudian Ola menawarkan bisnis narkoba. Rani diberikan tugas sebagai kurir untuk mengantarkan barang haram tersebut. Rani dengan terpaksa menerima tawaran tersebut karena desakan ekonomi dan hutang yang menjeratnya.

Ketiganya mengajukan grasi kepada Presiden, namun hanya grasi Rani Indriani yang ditolak oleh Presiden Jokowi. Rani termasuk satu dari 64 napi narkoba yang grasinya ditolak Jokowi melalui Keppres 27/G 2014 tertanggal 30 Desember 2014. Sementara, pengajuan grasi Ola dan Deni dikabulkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sehingga hukumannya berubah menjadi penjara seumur hidup.

Sebelum grasinya ditolak, Rani telah melakukan beberapa upaya hukum untuk meringankan hukumannya. Rani pernah melakukan banding di Pengadilan Tinggi Bandung namun gagal dan tetap divonis mati dengan amar putusan nomor 287/Pid/2000/PT. Upaya Kasasi dan PK yang dilakukan Rani di Mahkamah Agung juga kandas.

Perlakuan berbeda  atas  grasi  yang  diberikan  kepada  Ola  dan  Rani patut di pertanyakan. Dari relasi kuasa yang terjalin antara Ola dan Rani tampak bahwa Ola memiliki kekuasaan yang lebih atas Rani. Ola mampu memanfaatkan kondisi ekonomi Rani untuk direkrut menjadi kurir narkoba. Namun dalam hal pemberian grasi oleh SBY, Rani yang memiliki peran paling kecil dalam kasus tersebut, dikecualikan dari dua pelaku lainya. Menurut Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana, SBY memberikan grasi kepada Ola dan Deni karena alasan kemanusiaan dan menganggap keduanya hanyalah berperan sebagai kurir.[46]

Waktu akhirnya menunjukkan bahwa Ola bukanlah sekedar kurir. Pada tanggal 4 Oktober 2017, BNN menangkap seorang kurir narkoba berinisial NA di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat Karena membawa 775 gram sabu. Dari hasil pengembangan kasus tersebut terungkap bahwa

46 “Ini Alasan SBY Keluarkan Grasi untuk Deni Setia”, 18 Oktober 2012, diakses pada 25 Desember 2016, http://www.tribunnews.com/nasional/2012/10/18/ini-alasan-sby-keluar- kan-grasi-untuk-deni-setia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *