• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

Pasal 44 ayat (1) KUHP:

Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.”

Ayat (2):

Jika nyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal, maka dapatlah hakim memerintahkan memasukkan dia ke rumah sakit jiwa selama- lamanya satu tahun untuk diperiksa.

Dengan demikian, mengacu kepada pasal 44 ayat (1) dan (2), Rodrigo sebagai seseorang yang terbukti mengidap penyakit jiwa (skizofrenia dan bipolar) seharusnya bisa diberikan alasan pemaaf.

Menurut R. Soesilo,[44] sebab tidak dapat dihukumnya terdakwa berhubung perbuatannya tidak dapat dipertanggung-jawabkan kepadanya adalah karena:

  1. Kurang sempurna Yang dimaksud dengan perkataan “akal” di sini ialah daya pikiran, kekuatan pikiran, maupun kecerdasan pikiran. Orang-orang yang misalnya: imbicil, idiot, buta-tuli, atau bisu sejak lahir dapat masuk ke dalam kategori ini. Mereka sebenarnya tidak sakit, namun karena menderita cacat sejak lahir, maka pikirannya tetap sebagai kanak-kanak.
  2. Sakit berubah akalnya. Masuk ke dalam kategori ini misalnya: sakit gila, histeri (sejenis penyakit saraf terutama pada wanita), epilepsi, dan bermacam-macam penyakit jiwa.

Menanggapi petisi dan permohonan di atas, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai eksekusi mati gembong narkoba yang menderita kelainan jiwa dapat ditunda. Jusuf Kalla meminta terpidana yang mengidap sakit jiwa terlebih dahulu mendapatkan perawatan.[45]

Meskipun menghadapi banyak kritik atas rencana pengeksekusian Rodrigo yang mengidap gangguan jiwa, eksekusi mati terhadap Rodrigo pun nyatanya tetap dijalankan. Rodrigo Gularte dieksekusi pada 29 April 2015 dalam eksekusi mati gelombang II.

44 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal,
hal. 60-61.
45 “Sakit Jiwa dan Penundaan Eksekusi Terpidana Hukuman Mati,” GATRA News, 13 Ma- ret 2015, diakses pada 25 Desember 2016, http://www.gatra.com/kolom-dan-wawancara/ 138262-sakit-jiwa-dan-penundaan- eksekusi-terpidana-hukuman-mati.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *