• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

yang dibuat oleh dokternya di Brasil maupun oleh dokter psikiatri yang memeriksanya di RSUD Cilacap, Jawa Tengah.

“Sementara data Medical-Psychiatric Report yang dibuat dokter Valter Luiz Abel menyatakan Rodrigo sudah diperiksa olehnya dari Maret hingga November 1996 dan didiagnosa mengidap hyperactive and attention deficit disorder dan bipolar. Sedangkan untuk penyakit skizofrenia baru diketahui pada November 2014 dan diperkuat oleh hasil keterangan psikiatri Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap yang dikeluarkan pada 11 Februari 2015.”[40]

 “Jangan minum air ini! Air di desa ini sudah tercemar, terkontaminasi oleh racun, lihat warnanya hijau!” kata Rodrigo Gularte ketika penulis menyodorkan botol air mineral untuk dia minum, tiga hari sebelum pelaksanaan eksekusi mati.”[41] (Ricky Gunawan, Unfair Trial: Analisis Kasus Terpidana Mati di  Indonesia,  Jakarta:  Imparsial, 2016)

Tercatat, Rodrigo seringkali berhalusinasi saat berada di dalam penjara [42] serta telah mencoba untuk bunuh diri.[43] Gangguan mental yang  diidap oleh Rodrigo ini menyebabkannya dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh jaringan kartel obat bius untuk menyelundupkan narkotika ke Indonesia.

Di dalam ilmu hukum pidana di Indonesia (KUHP) dikenal istilah alasan penghapus pidana yaitu “alasan pembenar” dan “alasan pemaaf”.

Mengacu kepada pasal 50 KUHP, alasan pembenar adalah alasan yang menghapus sifat melawan hukum suatu tindak pidana. Maksudnya, alasan pembenar melihat dari sisi perbuatannya (objektif). Contohnya adalah tindakan ‘pencabutan nyawa’ yang oleh regu penembak terhadap terpidana mati.

Sedang mengacu kepada pasal 44 KUHP, yang dimaksud dengan alasan pemaaf yaitu alasan terhapusnya kesalahan pelaku suatu tindak pidana, sedangkan perbuatannya tetap melawan hukum. Jadi, alasan pemaaf melihat dari perspektif si pelaku (subjektif). Contoh: pelaku yang gila (tidak waras) sehingga tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

40 Aulia Bintang Pratama, “Jika Terbukti Sakit, Eksekusi Rodrigo Gularte Memalukan RI,” CNN Indonesia, 26 April 2015, diaksespada25Desember 2016, http://www.cnnindonesia. com/nasional/20150426175543-12-49311/ jika-terbukti-sakit-eksekusi-rodrigo-gularte-mema- lukan-ri/.
41 Ricky Gunawan, “Elegi Rodrigo Gularte: Ketika Akal Sehat Dieksekusi Mati,” Unfair Trial: Analisis Kasus Terpidana Mati di Indonesia (Jakarta: Imparsial, 2016), Cet. 1, hal. 37-64.
42 “Terpidana Mati Rodrigo Gularte Masih Sering Berhalusinasi,” Antaranews.com, 26 April 2015, diakses pada 25 Desember 2016, http://www.antaranews.com/berita/492948/terpi- dana-mati-rodrigo-gularte- masih-sering-berhalusinasi.
43 Utami Diah, “Rodrigo Gularte: Peselancar Pesakitan yang Menanti Mati,” CNN Indone- sia, 28 April 2015, diakses pada 25 Desember 2016, http://www.cnnindonesia.com/nasio- nal/20150428191742-12-49841/ rodrigo-gularte-peselancar-pesakitan-yang-menanti-mati/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *