• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

sama (tertanggal 2 Mei 2005). Permohonan PK tersebut kemudian diterima oleh Mahkamah Agung pada tanggal 22 Agustus 2005 (dicatat dalam Regno. 76 PK/Pid./2005). Malangnya, permohonan PK tersebut “terselip” selama 10 (sepuluh) tahun; permohonan PK telah diterima oleh MA pada 22 Agustus 2005 namun permintaan penjelasan serta putusan PK oleh MA baru diberikan pada 27 April 2015. Lalu, hanya dua hari setelah putusan itu keluar, Zainal Abidin langsung dieksekusi.

Selain PK yang “terselip” selama 10 tahun, terdapat banyak pelanggaran lain dalam perjalanan kasus Zainal Abidin, antara lain: (1) Zainal Abidin tidak didampingi oleh penasihat hukum maupun bantuan hukum  pada saat keterangan diambil, namun proses pemeriksaan oleh pihak Kepolisian tetap dilakukan, (2) terdapat dugaan kuat bahwa keterangan Zainal tersebut didapatkan dengan cara-cara penyiksaan, (3) terdapat dugaan kuat terjadi penahanan yang sewenang-wenang (arbitrary detention) karena terdapat jeda masa penahanan yang tidak disertai oleh surat perintah penahanan sebagaimana diatur dalam KUHAP. Zainal Abidin secara terus menerus berada dalam penahanan dan tidak pernah dibebaskan sekalipun atau ditangguhkan penahanannya sejak ditangkap pada 21 Desember 2000 hingga saat ia ditembak mati pada 29 April 2015. Sejak lima tahun menjelang eksekusi, Zainal Abidin dipindahkan dari Palembang ke Nusakambangan. Selama periode waktu itu pun Zainal tidak pernah mendapat kunjungan dari keluarganya karena kesulitan biaya.[39]

Pada 2 Januari 2015, Presiden Jokowi menolak grasi yang diajukan oleh Zainal melalui surat Keppres Nomor 2/G/2015. Zainal Abidin telah dieksekusi pada 29 April 2015 lalu. Hingga saat-saat terakhir eksekusi pun, Zainal Abidin tetap pada pendiriannya: bahwa ia tidak bersalah.

KASUS RODRIGO GULARTE

Rodrigo Gularte adalah warga negara Brasil berusia 43 tahun yang di- tangkap pada bulan Juli 2004 karena kedapatan berusaha menyelundupkan narkoba jenis kokain seberat 19 kilogram di dalam papan selancar yang dibawanya. Rodrigo kemudian divonis mati pada tahun 2005 oleh PN Tangerang dan menghabiskan sepuluh tahun di dalam sel  penjara  sebelum akhirnya dieksekusi pada 29 April 2015 lalu dalam eksekusi mati gelombang II.

Rodrigo memiliki gangguan mental sejak remaja hingga saat-saat terakhir eksekusi. Hal ini dibenarkan dan diperkuat oleh laporan kesehatan, baik

39 Dolly Rosana, “Perjuangan di Penghujung Kehidupan Terpidana Mati Zainal Abidin,” Antaranews. com, 6 Maret 2015, diakses pada 7 April 2017, http://www.antaranews.com/beri- ta/483634/perjuangan-di- penghujung-kehidupan-terpidana-mati-zainal-abidin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *