• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

Zulfiqar Ali kemudian dibawa ke sebuah lokasi yang ia yakini sebagai kantor polisi di dekat Bandara Soekarno-Hatta dan ditahan di lokasi tersebut selama empat hari. Selama berada di tempat inilah, Zulfiqar mengaku mengalami berbagai kekerasan dan penyiksaan oleh oknum anggota kepolisian, seperti diikat, dipukul dengan tongkat, ditendang, dan diseret menggunakan mobil dengan tangan terikat dengan maksud agar Zulfiqar Ali mengakui tuduhan polisi dan menandatangi BAP [34]. Zulfiqar yang terus- menerus dianiaya pun akhirnya menandatangani dokumen tersebut,  tanpa mengetahui apa yang tertulis di dalamnya berhubung ia pada saat itu masih memiliki pemahaman akan Bahasa Indonesia yang buruk dan tanpa didampingi oleh penerjemah.

Dalam kurun waktu ini pula, istri Zulfiqar Ali, Siti mengaku berkeliling mencari keberadaan suaminya dari Polsek Bogor hingga ke Jakarta. Baru kemudian setelah empat hari berselang sejak penangkapan, Siti akhirnya bisa bertemu dengan suaminya di Polda Metro Jaya.[35] Kondisi Zulfiqar Ali pada saat ditemui oleh istrinya sangat mengkhawatirkan. Berbagai bekas luka dan lebam terdapat disekujur tubuh Zulfiqar, termasuk di wajah dan kepala. Siti tidak diperkenankan membawa alat elektronik apapun pada saat bertemu dengan suaminya sehingga dia tidak bisa mendokumentasikan kondisi suaminya pada saat itu.

Pada saat penangkapan pihak kepolisian tidak menunjukkan surat penangkapan. Surat penangkapan baru  diberikan  kepada  Zulfiqar  Ali  tiga (3) hari setelah penangkapan. Padahal, kasus Zulfiqar Ali bukanlah kasus tertangkap tangan melainkan dituduh sebagai pemilik heroin dari seorang tersangka yang bernama Gurdip Singh yang sudah ditangkap tiga bulan sebelumnya di Bandara Sukarno Hatta. Dengan demikian, adalah sebuah kewajiban bagi pihak kepolisian untuk memegang surat perintah penangkapan terlebih dahulu sebelum melakukan berbagai tindakan (upaya) paksa terhadap Zulfiqar Ali.

Pada saat penangkapan polisi juga melakukan penggeledahan di rumah Zulfiqar Ali, namun kepolisian tidak menemukan barang bukti apapun yang terkait dengan tuduhan kejahatan narkotika. Penggeledahan ini tentunya juga tidak disertai dengan surat perintah penggeledahan. Dimana, dengan tuduhan bahwa Zulfiqar Ali merupakan bagian dari  pelaku  kejahatan  yang telah ditangkap sebelumnya maka surat perintah penggeledahan seharusnya sudah dimiliki oleh kepolisian. Begitupun halnya dengan penahanan terhadap Zulfiqar Ali, kepolisian tidak mampu menunjukkan surat perintah penahanan. Dengan demikian segala upaya paksa yang dilakukan oleh polisi terhadap Zulfiqar Ali seharusnya bersifat batal demi hukum.

34 Berdasarkan wawancara peneliti Imparsial dengan Zulfiqar Ali pada 27 September 2016.
35 Berdasarkan wawancara peneliti Imparsial, Evitarossi S. Budiawan, dengan Siti Rohani pada 24 Juli 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *