• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

kasus Zulfiqar Ali meski Zulfiqar tidak jadi dieksekusi pada gelombang III. Indikasi peradilan yang tidak adil (unfair trial) bisa dilihat dari kekerasan/ penyiksaan serta intimidasi yang dilakukan oleh oknum aparat hukum, hak atas akses terhadap penasehat hukum/pengacara yang diabaikan, dokumen Peninjauan Kembali (PK) yang “terselip” selama sepuluh tahun, hingga eksekusi terhadap orang dengan gangguan mental.

Kasus Zulfiqar Ali

Kasus Zulfiqar Ali berawal dari tertangkapnya Gurdip Singh, seorang warga negara India, oleh polisi di Bandara Soekarno-Hatta saat hendak berangkat ke Surabaya pada tanggal 29 Agustus 2004. Bersama Gurdip didapati heroin seberat 300 gram yang diselipkan di dalam kaos kakinya. Gurdip yang saat itu ditangkap polisi dipaksa untuk memberikan nama siapa pemilik heroin tersebut. Gurdip lalu menyebut nama Hillary sebagai pemilik heroin. Lalu karena tidak berhasil menangkap Hillary, Gurdip dipaksa untuk menyebut nama lain yang terlibat dalam kasusnya tersebut. Gurdip yang sebelumnya pernah dibantu oleh Zulfiqar Ali terkait masalah keuangan, termasuk juga yang meminjamkan uang seharga tiket pesawat dari Jakarta ke Surabaya, lalu menyebut nama Zulfiqar Ali.

Gurdip lalau menelpon Zulfiqar Ali dan mengaku bahwa ia sedang berurusan dengan polisi akibat berkelahi dengan orang Indonesia. Sambungan telepon itu lalu terputus tanpa Gurdip sempat memberi tahu dimana ia berada kepada Zulfiqar. Zulfiqar lalu menelepon Gurdip, namun justru yang menjawab adalah polisi. Polisi tersebut juga tidak memberikan penjelasan apa-apa tentang apa yang menimpa Gurdip. Zulfiqar Ali yang saat itu tinggal di Bogor lalu berkeliling ke Jakarta mencari keberadaan Gurdip, namun tidak berhasil.

Sebelumnya, Zulfiqar Ali mengenal Gurdip Singh melalui temannya yang bernama Rana, seorang berkebangsaan Pakistan yang kebetulan bertemu dengan Gurdip di sebuah Kantor Imigrasi di Jakarta. Gurdip mengaku kepada Rana bahwa ia tidak punya pekerjaan dan juga tempat tinggal. Rana yang tidak memiliki solusi lalu mengatakan kepada Zulfiqar bahwa ada seorang berkebangsaan India yang ia temui di kantor imigrasi tidak memiliki tempat tinggal maupun sanak saudara dengan maksud agar Zulfiqar dapat membantu orang tersebut. Zulfiqar yang merasa kasihan kemudian setuju untuk dikenalkan kepada Gurdip, tanpa mengetahui bagaimana track record Gurdip sebelumnya. Hingga suatu ketika Gurdip meminta bantuan kepada Zulfiqar untuk dibelikan tiket ke Surabaya dengan alasan urusan bisnis dan akan mengganti tiket tersebut ketika pulang ke Jakarta.

Tiga bulan kemudian, yaitu pada tanggal 21 November 2004 sekitar pukul 12.00 WIB (22 November 2004 dini hari), tujuh orang polisi mendatangi kediaman Zulfiqar Ali dan istrinya Siti di Bogor. Dengan menodongkan pistol ke kepala Zulfiqar, serta tanpa membawa surat perintah penangkapan maupun penahanan dan penggeledahan, polisi menggeledah rumah Zulfiqar serta menggiring Zulfiqar Ali beserta dengan Taslim Raza Khan, temannya yang pada hari itu sedang berkunjung ke kediamannya, ke dalam mobil. Baru ketika Zulfiqar dan Taslim berada di dalam mobil, beberapa polisi tersebut mengikat dan metutup mata Zulfiqar dan Taslim serta memukuli mereka dengan menggunakan pistol sampai kepala keduanya (Zulfiqar dan Taslim) pun luka dan berdarah.

Pada penggeledahan di rumah Zulfiqar Ali tersebut polisi tidak menemukan satu pun barang bukti. Aparat kepolisian lalu membawa Zulfiqar Ali dan Taslim ke rumah Taslim di Bilangan Cibubur yang kemudian juga ikut digeledah, namun hasilnya pun nihil. Setelah itu, mereka pergi ke kosan Ginong Pratidina di daerah Kuningan, Jakarta. Ginong adalah teman Zulfikar Ali yang sebelumnya berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di sebuah tempat kursus Primagama di Jakarta. Kosan Ginong juga ikut digeledah, namun tidak ditemukan bukti apapun di kosan tersebut kecuali obat Panadol milik Ginong.

Taslim yang awalnya ikut diringkus dan ditahan oleh polisi, kemudian baru dibebaskan satu tahun kemudian tanpa dakwaan.[31] Menurut Zulfiqar, pihak polisi sengaja menahan Taslim agar ia tidak bisa memberikan kesaksian yang dapat menyelamatkan Zulfiqar.[32] Baru ketika Taslim akhirnya dibebaskan, ia pun langsung pulang ke Pakistan dan memberikan affidavit yang menceritakan penganiayaan polisi terhadap dirinya dan Zulfiqar ketika ditangkap dan diinterogasi:

“Had he been interrogated by the police fairly and squarely, Zulfiqar Ali would not have been pleaded guilty. He was scared when he saw everyone was threatening him with gun. And police said if Zulfiqar Ali didn’t accept the stuff-heroin-belonged to him, police would definitely shot him to death at night.”[33]

Zulfiqar Ali memberitahu tempat tinggal Ginong itu kepada polisi dengan maksud bahwa Ginong dapat memberikan kesaksian yang meringankan kepada dirinya, bahwa aktifitasnya di Jakarta tidak ada yang berkaitan dengan narkotika. Namun tak disangka, Ginong yang berlatar belakang sarjana sastra Inggris dan berprofesi guru itu ikut terjebak dalam kasus Zulfiqar Ali karena ditemukan beberapa butir obat Panadol di tempat kost- nya.

31 “Tuduhan Maut Kenalan Baru,” Majalah Tempo edisi 19-25 September 2016, hal 84-87.
32 Berdasarkan wawancara peneliti Imparsial dengan Zulfiqar Ali pada 27 September 2016
33 Kesaksian (affidavit) Muhammad Taslim Raza Khan yang disaksikan dan disahkan oleh Oath Commissioner Lahore, Pakistan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *