• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

Delapan terpidana yang akhirnya dieksekusi, yaitu:

1. Myuran Sukumaran

Sukumaran (33) divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 2006, dalam kasus penyelundupan 8,3 kilogram heroin. Pengadilan menyebutkan Sukumaran dan Andrew Chan merupakan pemimpin dari ‘Kelompok  Sembilan’  warga  Australia  yang  ditahan  di  Bali   dalam   kasus penyelundupan heroin.

Sukumaran mengajukan grasi yang ditolak oleh Presiden Joko Widodo pada 30 Desember 2014. Sukumaran lalu mengajukan gugatan perlawanan setelah Pengadilan Tata Usaha Negara menolak gugatan yang mempertanyakan alasan penolakan grasi oleh presiden terhadapnya. Setelah gugatan itu juga ditolak, tim pembela hukum mengatakan akan ke Mahkamah Konstitusi.

2. Andrew Chan

Andrew Chan (31) merupakan warga negara Australia yang yang disebut sebagai pemimpin kelompok penyelundup heroin dari Australia yang dijuluki “Bali Nine”. Ia divonis hukuman mati bersama Myuran Sukumaran pada Februari 2006 lalu.

Dia ditangkap di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali pada April 2005. Permohonan grasinya ditolak pada 17 Januari 2015. Bersama Sukumaran, Andrew Chan pernah mengajukan gugatan perlawanan setelah Pengadilan Tata Usaha Negara menolak gugatan yang mempertanyakan alasan penolakan grasi oleh presiden terhadapnya.

3. Martin Anderson

 Martin Anderson (53) ditangkap di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada November 2003 lalu, dalam kasus kepemilikan 50 gram heroin. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan hukuman mati  pada  2 Juni 2004. Permohonan grasinya ditolak presiden pada 2 Januari 2015.

4. Zainal Abidin

Zainal Abidin bin Mgs Mahmud Badarudin satu-satunya warga negara Indonesia dalam eksekusi mati gelombang II. Ia divonis mati dalam kasus kepemilikan 58,7 kg ganja. Zainal ditangkap di rumahnya di Kelurahan Ilir, Palembang, pada 21 Desember 2000. Bersama barang bukti 58,7 kilogram ganja, ditangkap pula istri Zainal yaitu Kasyah dan teman Zainal yang dari Aceh, Aldo. PN Palembang menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara untuk Zainal,  Kasyah  3  tahun,  dan  Aldo  20 tahun penjara. Zainal  yang  merasa tidak bersalah pun mengajukan banding, namun kemudian malah divonis hukuman mati. Presiden Joko Widodo menolak grasinya pada 5 Januari silam melalui surat Keppres Nomor 2/G/2015.

Zainal Abidin termasuk salah satu korban dari peradilan yang tidak adil. Pada saat persidangan Zainal Abidin mengaku mendapatkan penyiksaan ketika pengambilan BAP. Ia juga tidak didampingi oleh penasehat hukum ketika memberikan keterangan yang pertama. Ada dugaan kuat Zainal Abidin mengalami penahanan sewenang-wenang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *