• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

b. Eksekusi Mati Gelombang II (29 April 2015)

Eksekusi mati gelombang I mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama oleh negara-negara yang warganya masuk dalam daftar eksekusi.[10] Brasil dan Belanda misalnya memanggil duta besarnya dari Indonesia. Namun pemerintah tetap bergeming.

Pasca eksekusi mati yang dilakukan pada tanggal 18 Januari 2015, Jaksa Agung, H.M. Prasetyo menggelar konfrensi pers dan mengumumkan akan melanjutkan eksekusi 58 terpidana mati yang grasinya telah ditolak Presiden Jokowi. Bahkan Kejaksaan Agung berencana akan melakukan eksekusi setiap bulannya.[11] Dalam kesempatan tersebut Jaksa Agung mengatakan ada sejumlah kriteria yang akan menjadi pertimbangan terpidana mati mana yang akan dieksekusi. Di antaranya, proses hukum dan masalah sosialnya telah selesai. Jaksa Agung sebelumnya telah membocorkan dua nama yang akan masuk daftar eksekusi mati gelombang II, yakni terpidana kasus Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Pada eksekusi mati gelombang II pemerintah rencananya akanmengeksekusi sepuluh orang terpidana. Hal tersebut terungkap setelah Kejaksaan Agung memberi tahu pihak Kedutaan Besar yang warga negaranya masuk dalam daftar eksekusi. Namun pada akhirnya hanya delapan orang yang menjalani eksekusi.

Serge  Areski  Atlaoui  dan  Mary   Jane   Fiesta   Veloso   lolos   dari  eksekusi  mati  gelombang  II.  Kapuspenkum   Kejagung,   Tony   T. Spontana  mengatakan,  penundaan  tersebut   dikarenakan   Sergei sedang    mengajukan     mengajukan    gugatan    terhadap    putusan PTUN yang menolak gugatannya terhadap Keppres Grasi.[12]

Eksekusi mati Mary Jane ditunda karena ada instruksi dari Presiden Joko Widodo menjelang detik-detik akhir. Kementerian Kehakiman Filipina melayangkan surat resmi pada Jaksa Agung untuk menunda eksekusi Mary Jane karena yang bersangkutan merupakan saksi penting atas kejahatan perdagangan manusia yang sidang kasusnya tengah berlangsung di Filipina.[13]

10 “Brasil dan Belanda Protes Eksekusi Mati, Menkumham Tegaskan Tak Ada Toleransi”, Kompas.com, 19 Januari 2015, diakses pada 23 Desember 2016, http://nasional.kompas.com/ read/2015/01/19/12504901/Brasil. dan.Belanda.Protes.Eksekusi.Mati.Menkumkam.Tegaskan. Tak.Ada.Toleransi,.
11 “Lanjutkan Eksekusi 58 Terpidana Mati, Tiap Bulan Digelar,” Jpnn.com, 19 Januari 2015, diakses pada 23 Desember 2016, http://www.jpnn.com/news/lanjutkan-eksekusi-58-terpi-dana-mati-tiap-bulan-digelar.
12 “Batal Eksekusi Mati WN Prancis, Prasetyo Akui Ada Lobi”, Okezone News, 27 April 2015, diakses pada 24 Desember 2016, http://news.okezone.com/read/2015/04/27/337/1140751/ batal-eksekusi-mati-wn-prancis- prasetyo-akui-ada-lobi.
13 “Bagaimana Mary Jane Lolos dari Jerat Eksekusi?” Tempo.co, 30 April 2015, diakses pada 24 Desember 2016, https://m.tempo.co/read/news/2015/04/30/063662255/bagaimana-mary–jane-lolos-dari-jerat-eksekusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *