• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

Soekarno Hatta, Solomon diketahui kedapatan membawa 73 (tujuh puluh tiga) butir kapsul heroin yang dia telan. Tujuh puluh tiga (73) butir kapsul heroin tersebut memiliki berat bruto 1.000 gram.

Solomon Okafor adalah warga Negeria yang bekerja sebagai pedagang alat-alat listrik di Pakistan. Solomon meninggalkan negerinya untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Di tengah perjuangan ekonominya, dia mengalami kebangkrutan. Kondisi inilah yang menjadikan dia tidak bisa pulang ke Negeria, karena tidak memiliki uang untuk membeli tiket dan kebetulan paspornya juga telah habis masa berlakunya. Semua kisah yang dilakukan oleh Solomon diakui olehnya di depan pengadilan dan dia menyesali perbuatannya.

Solomon Okafor mengalami unfair trial selama menjalani proses hukum. Hak-hak yang semestinya didapatkan Solomon Okafor diabaikan akibat dari kesalahan identitas. Dalam proses pemeriksaan, Solomon Okafor tidak didampingi oleh penerjemah berbahasa Nigeria dan hanya didampingi oleh penerjemah berbahasa Inggris, padahal Bahasa Inggris  Solomon  tidak terlalu baik. Persoalan identitas ini membawa konsekuensi adanya konstruksi peristiwa pidana yang meletakkan bahwa telah terjadi pemufakatan jahat antara Haifan dan Solomon Okafor dengan status yang setara. Padahal Solomon Okafor hanyalah kurir yang bersedia membawa narkoba karena dalam kondisi ekonomi yang buruk.

Dalam upaya hukum pasca putusan PN juga terdapat beberapa kejanggalan, antara lain banding yang diajukan jaksa penuntut  umum  atas putusan PN Tangerang yang sebenarnya lebih berat dari tuntutan yang diajukan. Pada sidang di tingkat PN Hakim telah mengabulkan tuntutan  JPU secara maksimal bahkan lebih berat. Majelis Hakim PN Tangerang menghukum Solomon Okafor dengan penjara seumur hidup dan denda dua ratus juta rupiah. Sedangkan JPU menuntut hukuman seumur hidup dan denda lima puluh juta rupiah. Namun JPU tetap mengajukan banding meskipun tuntutannya telah dipenuhi oleh majelis hakim secara maksimal. Hal tersebut tidak lazim dalam praktik hukum di Indonesia.

5. Rani Andriani alias MelisaAprilia

Rani merupakan satu-satunya warga negara Indonesia yang dieksekusi pada gelombang I. Rani divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang pada 2000 karena kedapatan membawa 3.500 gram heroin. Rani ditangkap bersama dua saudaranya Meirika Franola (Ola) dan Deni Setia Maharwan saat hendak terbang menyelundupkan narkoba ke London. Ketiganya divonis hukuman mati. Namun, dari ketiganya, hanya grasi Rani Indriani yang ditolak oleh Presiden Jokowi. Rani termasuk satu dari 64 napi narkoba yang grasinya ditolak Jokowi melalui Keppres 27/G 2014 tertanggal 30 Desember 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *