• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

dieksekusi di Boyolali. Dalam konferensi pers tersebut, Jaksa Agung juga menyebut nama-nama terpidana mati yang akan dieksekusi. Nama-nama tersebut juga berbeda dari yang semula direncanakan. Empat nama yang sebelumnya disebut akan dieksekusi dibatalkan karena masih mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Hal tersebut berbeda dengan kebiasaan Kejaksaan Agung yang selalu merahasiakan nama-nama terpidana mati yang akan dieksekusi. Jaksa Agung mengatakan bahwa hal tersebut dapat memberi sinyal dan pesan pada pelaku narkoba bahwa Indonesia tegas pada tindak kejahatan luar biasa tersebut.[7] Berikut adalah profil terpidana yang telah dieksekusi mati pada 18 Januari 2015.

1. Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Taftir alias Tommi Wijaya

Ang Kiem Soei adalahwarga negara Belanda yang dijatuhi hukuman matioleh Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada 13 Januari 2003 karena memproduksi, menyimpan, dan mengedarkan ribuan pil ekstasi.

Dalam wawancara yang dilakukan Wartawan Jawa Pos Ilham Wancoko beberapa hari menjelang eksekusi tanggal 14 Januari 2015, Ang Kiem Soei mengungkapkanbeberapakejanggalandalamproseshukumyang dia jalani.[8] Ang Kiem Soei mengatakan BAP yang dibuat polisi janggal karena hanya menyebut namanya saja, padahal ada dua orang lagi yang terlibat dalam kasusnya. Ia menandatangani BAP karena mendapat ancaman dan sempat menolaknya ketika di pengadilan. Dalam wawancara tersebut Ang Kiem Soei juga berharap Presiden Jokowi mempertimbangkan kelakuan baik yang telah ia tunjukkan selama di LP.

2. Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou

Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (38) merupakan warga negara Nigeria. Dia ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta dan kedapatan membawa 1.150 gram heroin dari Pakistan yang disembunyikan di dalam perut. PN Tangerang menjatuhkan hukuman mati padanya di tahun 2004 Pengadilan Tinggi tahun menguatkan vonis pada tahun 2004 dan kasasinya ditolak pada tahun 2005. Kemudian Daniel mengajukan peninjauan kembali pada 2009 dan pada 30 Desember 2014 grasinya ditolak Presiden Joko Widodo.

Dalam persidangan, Daniel mengatakan seseorang bernama Jostus me- nyuruhnya mengantarkan kapsul kepada orang yang bernama Joe di Jakarta. Ia diberi upah US$ 2,500 untuk melakukannya. Daniel yang hanya

7 “Alasan Jaksa Agung Umumkan Terpidana Mati Sebelum Dieksekusi,” Tribunnews, 18 Janu- ari 2015, diakses pada 23 Desember 2016, http://www.tribunnews.com/nasional/2015/01/18/alasan-jaksa-agung-umumkan- terpidana-mati-sebelum-dieksekusi.
8 “Jelang Ditembak Mati, Raja Ekstasi Titip Pesan untuk Jokowi,” Jpnn.com, 17 Januari 2015, diakses pada
23 Desember 2016, http://www.jpnn.com/news/jelang-ditembak-mati-raja-ekstasi-titip-pesan-untuk- jokowi?page=1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *