• BERANDA
  • HUKUMAN MATI
  • KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN
  • KONFLIK ACEH DA PAPUA
  • HAM
  • TENTANG IMPARSIAL

Evaluasi Praktik Hukuman Mati Pada Era Jokowi (2014-2020)

Presiden Joko Widodo menjustifikasi praktik hukuman mati di Indonesia dengan dalih bahwa hukuman mati masih menjadi hukum positif di Indonesia. Sementara, kebijakan Jokowi dalam menerapkan praktik hukuman mati pada era pemerintahannya yang didasarkan pada “kondisi Indonesia  yang  sedang  berada  dalam  ‘darurat  narkoba’  dengan  sebanyak 40-50 orang meninggal dunia akibat kejahatan narkoba setiap harinya” pun didasarkan pada data yang patut dipertanyakan validitasnya.

1. Eksekusi Mati

Pada periode pertama pemerintahan Jokowi, tercatat ada tiga (3) gelombang eksekusi mati dijalankan oleh Kejaksaan Agung. Eksekusi mati itu bermula dari pernyataan Presiden Jokowi pada 9 Desember 2014 di Universitas Gadjah Mada yang akan menolak permohonan grasi terpidana mati kasus Narkoba.

Pada tanggal 12 Desember 2014, Kejaksaan Agung menindaklanjuti Pidato Presiden Jokowi dengan mengumumkan rencana eksekusi mati terhadap lima (5) orang terpidana.[4] Kejaksaan Agung berencana melakukan eksekusi sebelum pergantian tahun. Namun, rencana tersebut tertunda dengan alasan beberapa terpidana mati masih melakukan upaya hukum berupa Peninjauan Kembali (PK). Putusan MK Nomor 34/PUU-XI/2013 tertanggal 6 Maret 2014 mengenai Pengajuan Kembali (PK) yang diperbolehkan lebih dari satu kali bagi semua narapidana dianggap menghambat proses eksekusi. Untuk mengatasi kendala tersebut, rapat khusus bersama antara JaksaAgung bersama Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Menkumham Yasonna Laoly dan sejumlah pakar hukum pada tanggal 9 Januari 2016 memutuskan untuk melakukan eksekusi hanya bagi terpidana yang permohonan grasinya sudah ditolak Presiden.[5]

a. Eksekusi Mati Gelombang I (18 Januari 2015)

 Pada tanggal 15 Januari 2015, Jaksa Agung, H.M. Prasetyo melalui konferensi pers di Gedung Kejaksaan Agung mengumumkan akan mengeksekusi enam orang terpidana mati pada tanggal 18 Januari 2015.[6] Jumlah ini bertambah satu orang dari rencana eksekusi mati yang direncanakan sebelumnya. Lima orang akan dieksekusi di Nusakambangan, sementara satu orang akan

4 “Jalan Panjang Kejaksaan Mengeksekusi Mati 6 Gembong Narkoba,” DetikNews, 18 Januari 2015, diadkses pada 20 Desember 2016, http://news.detik.com/berita/d-2806332/jalan-pan-jang-kejaksaan-mengeksekusi- mati-6-gembong-narkoba.
5 “Kejagung Putuskan Eksekusi Mati Napi yang Ditolak Grasinya,” JPNN.com, 10 Januari 2015, diakses pada 20 Desember 2016, http://www.jpnn.com/news/kejagung-putuskan-eksekusi-
-mati-napi-yang-ditolak-grasinya.
6 “Jaksa Agung Umumkan Rencana Eksekusi Terpidana Mati,” Hukum Online, 16 Januari 2015, diakses pada 20 Desember 2016, http://www.hukumonline.com/berita/bacafoto/lt54b84a-0a1c19e/jaksa-agung-umumkan- rencana-eksekusi-terpidana-mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *