Perjumpaan Tokoh Masyarakat Gunungjati: Doa Bersama dan Pengajian Tutup Tahun

Bersama lah dalam kemanusiaan walaupun diciptakan sebagai manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda

Koordinator kelompok tokoh agama/masyarakat Desa Klayan Kecamatan Gunung Jati menghimpun para warga desa Klayan dari berbagai lapisan masyarakat untuk berkumpul di halaman Lapangan Voli Desa Klayan untuk mengikuti acara kegiatan do’a bersama dan pengajian tutup tahun. Dengan mengangkat tema tentang kebhinekaan, toleransi, kerukunan dan perdamaian pada Sabtu, 31 Desember 2022.

Acara ini dihadiri oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Klayan, ibu-ibu, remaja dan anak-anak kurang lebih sebanyak seratus (100) orang. Tidak ketinggalan pula acara ini dihadiri oleh Kuwu Klayan, Pak Jumadi, Kepala Camat, Bpk. Drs, H. Kusdiyono. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 20.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB.

Kegiatan ini dipandu oleh Mas Supriyatno selaku pembawa acara yang pernah menjadi peserta alias alumni saresehan kebhinekaan Imparsial, membuka acara dengan basmallah. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al qur’an namun qori’ tersebut berhalangan hadir, maka dilanjutkan dengan menyanyikan lagu nasional “Indonesia Raya” dipimpin oleh Neneng Alfiah (staff imparsial Gunungjati) sebagai Dirijen. Para hadirin diajak berdiri menyanyikan lagu kebangsaan bersama.

Kemudian dilanjutkan sesi sambutan oleh Kepala Camat Gunungjati Kabupaten Cirebon yaitu, Bapak Drs, H. Kusdiyono. Dalam sambutannya tersebut beliau sangat senang dan mengapresiasi penuh kegiatan ini. Sebab dalam penyampaian sambutan beliau, bahwasanya walaupun budaya kembang api pada malam tahun baru masehi adalah bukan budaya kita sebagai umat muslim, oleh karena kita sepatutnya sebagai umat muslim yang baik hendaknya mengisi malam tahun baru masehi dengan kegiatan yang manfaat dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Namun perbedaan itu kita tetap kita sikapi dengan menghormati mereka yang berbeda budaya dengan kita.

Sambutan lainnya datang dari Mas Nurkholis Shobirin AS selaku perwakilan kordinator tokoh masyarakat dan tokoh agama Desa Klayan. Dalam sambutannya tersebut beliau mengucapkan terimakasih kepada Imparsial, Kepala Camat, Kepala Desa Klayan, KNPI Klayan Gunungjati dan seluruh warga Desa Klayan yang telah ikut serta mensukseskan acara ini.

Setelah sesi sambutan, lalu masuk kegiatan selanjutnya yaitu dengan “Diskusi Kebhinekaan” bersama para tokoh pemuda Desa Klayan. Ada juga kegiatan tahlil dan do’a bersama yang dipimpin oleh Kyai Ahmad Sahal Tusturi. Sebelum memulai tahlil, beliau mengajak refleksi bersama dengan para hadirin yang datang tentang toleransi dan syari’at islam. Kedua pembahasan tersebut lebih lanjut akan dilampirkan di MoM atau dokumen terpisah (Tokoh Pemuda). 

Masuk ke kegiatan acara intinya, diisi dengan pengajian atau tausiyah yang disampaikan oleh Kyai Abdul Qodir selaku Pengasuh Pondok Pesantren Jatigede Cilukrak, Palimanan, Kab. Cirebon. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan soal toleransi dan keberagaman.

“Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Perbedaan itu berbeda-beda dalam kebersamaan, bersama dalam perbedaan. Kita berbeda dalam kebersamaan dan kita tetap bersama dalam perbedaan”. Tegas Pak Kyai membuka tausiyah atau ceramahnya tersebut. 

Kemudian dipertegas dengan dalil atau ayat al qur’an yang disampaikan oleh Kyai Abdul Qodir dalam Surah Al Hujurat ayat 13: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Yaa ayyuhaan naasu inna khalaqnaaku min zhakarin wa unsa waja’alnaakum syu’uubaan waqabaaila lita’aarafuu, inna akramakum ‘indalllahi atqaakum, innallah ‘alimun khabbir  

Artinya  

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Pengertian Ayyuhannas di sini menurut pemaparan Kiai ialah seluruh manusia ciptaan Allah, berarti tanpa terkecuali, baik yang beragama islam, kristen, konguchu, hindu, budha, dan lain-lain. Dan pengertian wa ja’alnaakum syu’uuba wa qobaa il, maksudnya adalah , Kata Allah, saya jadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Ja’ala itu ada peran serta makhluk dan manusia. Kenapa? Sebab terciptanya suku dan bangsa itu karena adanya komunitas dan manusia di kehidupan sosial. Datanglah satu demi satu pendatang di suatu penduduk, kota atau masyarakat maka jadilah komunitas. 

Perbedaan yang ada tidak dapat kita pungkiri tetapi semua ada dalam kebersamaan sebagai makhluk ciptaan Allah. Kalau kita melihat dari konteks sejarah pun, pada saat Belanda menjajah dan berusaha merebut Indonesia, seluruh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang yang berbeda bergerak demi satu tujuan. Tidak peduli suku dan agamanya, tujuannya bersatu untuk kesatuan negara republik Indonesia merebut Negara Repbulbik Indonesia dari bangsa penjajah. 

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa bersama lah dalam kemanusiaan dan ketika ada penindasan terhadap nilai-nilai perdamaian, kita bisa bersama maju untuk membentuk suatu masyarakat yang damai dan menjaga kerukunan. Walaupun semua kembali kepenilaian dimata Allah yang melihat dari Ketaqwaan terhadap dirinya, kita hanya bisa berlomba-lomba dalam kebaikan dalam hubungan pencipta dengan tuhanNya beserta antar makhluk sesama ciptaanNya.

Selesai acara, ditutup dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Kyai H. Ahmad Sahal Tusturi.

Terakhir, sesi foto bersama dengan para tokoh agama/masyarakat Desa Klayan.

en_GBEnglish (UK)