Frans Nirigi, The issue of the Lion Air JT 687 "bomb" and the Weakening of Papuan Solidarity

Ade Yamin

Foreword

“Pace, kamu punya teman ada dapat masalah di Pontianak ini”, bunyi pesan yang masuk kedalam kotak pesan whatsapp saya dari seorang kawan di Pontianak. Ia begitu bersemangat untuk menyampaikan seakan saya harus tahu bahwa seorang saudara saya sedang tersandung masalah besar di Pontianak. Tentu saja pesan yang dikirim oleh seorang sahabat ini harus saya maknai positif sebagai bentuk solidaritas dan signal untuk bersegera peduli dengan nasib Frans Nirigi (nama ini belakangan saya ketahui setelah membaca berbagai media yang memberitakan peristiwa di bandara Pontianak) yang sedang terlunta dan terjerat hukum di negeri yang ia tak memiliki sanak family sesama orang Papua.

Ya, saat ini dua hari sudah Frans Nirigi berurusan dengan pihak yang berwajib di Pontianak, untuk mempertanggungjawabkan perkataan yang menurut satu versi adalah akibat mengucapakan kata keramat “bom” di dalam pesawat Lion Air JT 687 tujuan Jakarta. Sementara itu dilinimasa yang lain beredar informasi, justru kru pesawatlah yang salah mendengar perkataan seorang Frans Nirigi, yang berbuntut pada berhamburannya penumpang pesawat tersebut konon untuk mencari selamat dengan membuka pintu darurat dan berlompatan keluar dari pesawat. [1]

CONTINUE READING.

Review-NS_Frans-Nigiri-Isu-Bom-Lion-Air-JT-687-dan-Melemahnya-Solidaritas-Papua_Ade-Yamin.pdf

en_GBEnglish